Sepuluh Pertanyaan Kunci yang Memerlukan Jawaban Sesegera Mungkin
Apa manfaat keberlanjutan bagi bisnis?
Pagi itu, rapat manajemen tentang ESG dan keberlanjutan berjalan seperti biasa. Layar menampilkan laporan keberlanjutan terbaru: grafik emisi terlihat meyakinkan, target energi tersusun rapi, dan program sosial memenuhi beberapa halaman. Semua tampak berjalan baik, sampai seseorang mengajukan pertanyaan yang mengubah arah percakapan: “Apa dampaknya terhadap bisnis kita?”
Ruangan mendadak terasa lebih sunyi. Tim keberlanjutan menelusuri data yang mereka miliki. Tim keuangan membuka laporan terbaru. Tim risiko membaca kembali catatan eksposur. Tim HRD membuka catatan KPI. Beberapa orang saling berpandangan karena jawabannya ternyata tidak sesederhana yang mereka bayangkan.
Data lingkungan memang tersedia. Risiko pernah dibahas. Strategi perusahaan sudah memuat target. Namun hubungan di antara ketiganya belum selalu terlihat.
- Siapa pemilik risiko tersebut?
- Apakah Direksi dan Komisaris memahami implikasinya?
- Apakah dampaknya masuk ke dalam perencanaan keuangan?
- Apakah data yang digunakan cukup dapat dipercaya untuk mendukung keputusan?
Pertanyaan tersebut membuka persoalan yang lebih besar. Tantangan perusahaan bukan semata-mata kekurangan laporan, melainkan belum kuatnya keterhubungan. Itulah perubahan penting yang dibawa oleh International Sustainability Standards Board (ISSB) IFRS S1 & S2: sustainability tidak berhenti pada cerita tentang apa yang dilakukan perusahaan, tetapi perlu menjelaskan mengapa hal itu penting bagi prospek, risiko, dan nilai perusahaan.
Ketika angka mulai berbicara
Selama bertahun-tahun, praktik pelaporan keberlanjutan berkembang dengan baik. Perusahaan mulai menghitung emisi, mencatat konsumsi energi, mendokumentasi program pengembangan masyarakat, dan mempublikasikan target. Kemajuan tersebut penting karena membuat dampak perusahaan lebih terlihat.
Akan tetapi, dunia bisnis bergerak lebih cepat. Investor tidak hanya ingin mengetahui program yang dijalankan. Mereka ingin memahami risiko dan peluang, serta bagaimana keduanya dapat memengaruhi arus kas, akses pendanaan, nilai aset, biaya operasi, atau ketahanan model bisnis. Percakapan pun bergeser: sustainability mulai bertemu strategi, manajemen risiko, keuangan, dan tata kelola.
ISSB hadir di titik pertemuan itu. Fokusnya bukan menambah sebanyak mungkin informasi, melainkan membantu perusahaan menjelaskan informasi yang relevan secara lebih terhubung dan berguna bagi penyedia modal. Sebuah target emisi menjadi lebih bermakna ketika pembaca dapat melihat siapa yang bertanggung jawab, bagaimana target tersebut didanai, risiko apa yang mungkin muncul, dan metrik apa yang digunakan untuk memantau kemajuannya.
Menjelang pelaporan 2027, kompas perlu dibaca sekarang
Tahun 2027, dimana PSPK 1 dan 2 mulai berlaku di Indonesia, mungkin terdengar masih jauh. Namun satu siklus pelaporan segera berlalu, satu siklus anggaran selesai, dan proses audit membutuhkan waktu. Membangun proses pengumpulan data, menetapkan pemilik informasi, menyelaraskan definisi, serta melibatkan banyak fungsi bahkan dapat memerlukan beberapa kali siklus perbaikan.
Kesiapan tidak muncul pada malam sebelum tenggat. Ia tumbuh secara bertahap: organisasi memahami kebutuhannya, memetakan kesenjangan, menghubungkan orang dan proses, lalu menguji apakah informasi yang tersedia benar-benar dapat mendukung keputusan. Sepuluh pertanyaan berikut dapat menjadi kompas awal, bukan untuk memberi nilai, melainkan untuk membantu perusahaan melihat posisinya dengan jujur.
Sepuluh pertanyaan untuk satu organisasi
- Apakah Direksi dan Komisaris memahami risikonya?
Bayangkan banjir mengganggu sebuah fasilitas, biaya operasi meningkat, dan pemasok mulai menghadapi masalah. Siapa yang pertama mengetahui, siapa yang mengambil keputusan, dan apakah konsekuensi strategisnya sampai ke Board? Informasi yang relevan tidak harus memuat seluruh detail teknis, tetapi harus menunjukkan apakah strategi atau investasi perlu berubah.
- Apakah risiko keberlanjutan sudah terhubung dengan enterprise risk?
Banyak perusahaan memiliki dua dunia yang berjalan bersebelahan: laporan ESG dan risk register. ISSB mendorong hubungan yang lebih jelas antara keduanya. Risiko iklim, ketergantungan sumber daya, atau perubahan preferensi pelanggan perlu dilihat sebagai bagian dari risiko perusahaan, termasuk horison waktu dan peluang yang menyertainya.
- Apakah strategi sudah merespons perubahan?
Harga karbon, regulasi, teknologi, dan permintaan pelanggan dapat mengubah pilihan bisnis. Jika semua investasi, produk, dan rantai pasok tetap berjalan tanpa penyesuaian, perusahaan perlu bertanya apakah risikonya memang sudah dipahami atau baru sekadar dicatat.
- Apakah dampak keuangan mulai terlihat?
Risiko panas ekstrem, misalnya, dapat menurunkan produktivitas, menaikkan biaya pendinginan, menambah kebutuhan perlindungan aset, atau memengaruhi premi asuransi. Perusahaan tidak harus memiliki angka yang sempurna sejak awal, tetapi perlu memahami arah dan jalur dampaknya terhadap keuangan.
- Siapa pemilik setiap data?
Satu angka emisi dapat melewati banyak tangan: lokasi operasi, spreadsheet, faktor emisi, konsolidasi, hingga publikasi. Setiap titik memerlukan pemilik yang tidak hanya mengumpulkan data, tetapi juga memahami sumbernya, metodologinya, perubahan tahunannya, dan alasan angka tersebut layak digunakan.
- Apakah kontrol dan jejak auditnya cukup kuat?
Dua angka desimal tidak otomatis membuat informasi menjadi tepercaya. Dokumen sumber, batas perhitungan, metodologi, persetujuan, serta penjelasan atas perubahan harus dapat ditelusuri. Kontrol yang baik menjadi fondasi ketika kebutuhan assurance semakin besar.
- Apakah materialitas dipahami dari sudut pandang penyedia modal?
Tidak semua informasi perlu diungkapkan, tetapi informasi yang dapat memengaruhi penilaian atas prospek perusahaan tidak boleh hilang. Perspektif ini mengubah cara perusahaan memilih, memprioritaskan, dan menjelaskan informasi keberlanjutan.
- Apakah metrik yang dipilih benar-benar berguna?
Puluhan indikator dapat terlihat mengesankan, tetapi metrik yang baik seharusnya membantu pembaca memahami risiko, peluang, kinerja, dan arah perusahaan. Relevansinya juga bergantung pada industri: bank, perusahaan tambang, manufaktur, dan properti memiliki eksposur yang berbeda, metriknyapun berbeda.
- Apakah semua fungsi berbicara dalam bahasa yang sama?
ESG dan Keberlanjutan tidak dapat berjalan sendirian. Finance, risk, operasi, audit internal, manajemen, dan Board perlu memahami keterkaitannya. Tanpa definisi bersama atas istilah seperti materialitas, risiko, target, dan kontrol, proses akan berjalan lambat dan mudah terfragmentasi sehingga tidak bermakna bagi bisnis.
- Bisakah perusahaan menjelaskannya secara sederhana?
Pilih satu risiko keberlanjutan terbesar, lalu ceritakan perjalanannya: siapa yang mengawasi, bagaimana risiko dinilai, bagaimana strategi merespons, apa dampak keuangannya, dan metrik apa yang mendukung. Jika ceritanya belum utuh, temuan itu bukan kegagalan. Itulah peta kesenjangan yang perlu ditindaklanjuti.
Belum bukan berarti terlambat
Tidak semua perusahaan siap hari ini, dan itu bukan hal yang mengejutkan. ISSB membawa pola pikir yang menuntut keterhubungan baru. Kesiapan memiliki beberapa lapisan: tata kelola, data, proses, sistem pengendalian, serta manusia yang menjalankan semuanya.
Lapisan manusia sering terlupakan. Padahal merekalah yang membaca standar, menafsirkan kebutuhan, mengumpulkan data, menilai risiko, menyusun narasi, dan mengambil keputusan. Capability building bukan pelengkap, melainkan fondasi yang memungkinkan standar diterapkan secara konsisten di dalam organisasi.
Sebuah jembatan bernama pemahaman
Bayangkan kembali ruang rapat di awal cerita. Pertanyaan yang sama muncul: “Apa dampaknya terhadap bisnis kita?” Kali ini suasananya berbeda. Tim sustainability memahami konteks bisnis. Tim finance mengenali risiko keberlanjutan. Tim risiko melihat keterkaitan strategis. Operasi memahami kebutuhan data. Board mendapatkan informasi yang lebih relevan.
Jawabannya mungkin belum sempurna, tetapi diskusinya sudah berubah. Organisasi tidak lagi sekadar memiliki laporan yang tebal; organisasi mulai memahami cerita di balik angka dan mampu menghubungkannya dengan keputusan. Itulah tanda bahwa kesiapan sedang tumbuh.
Karisman Learning & Consulting resmi menjadi Official ISSB Training Partner di Indonesia, berwenang menyelenggarakan ISSB Disclosure Training, dengan sertifikat dari IFRS.
Karisman memasuki babak baru
Perjalanan tersebut kami rasakan ketika bekerja bersama berbagai perusahaan, ada yang baru memulai, telah matang, atau sedang bertransformasi. Satu kebutuhan terus muncul: orang perlu memahami perubahan sebelum menerapkannya.
Karena itu, Karisman Learning & Consulting kini resmi menjadi ISSB Training Partner di Indonesia dan berwenang menyelenggarakan ISSB Disclosure Training. Materi pelatihan dikembangkan oleh IFRS Foundation, sementara pendekatan pembelajaran kami diarahkan agar peserta tidak berhenti pada pemahaman isi standar. Peserta diajak melihat penerapannya dalam konteks bisnis nyata.
Program ini relevan bagi tim:
- ESG & sustainability,
- finance,
- risk management,
- operation and supply chain,
- corporate reporting,
- corporate communication and corporate secretary,
- internal audit,
- management,
- serta fungsi lain dalam rantai nilai peruahaan.
ISSB bukan pekerjaan satu tim, melainkan perjalanan organisasi untuk membangun bahasa bersama, memperkuat informasi, dan membuat keputusan lebih siap menghadapi perubahan.
Bangun kesiapan ISSB bersama Karisman
Karisman Learning & Consulting menghadirkan ISSB Disclosure Training berbasis materi IFRS Foundation untuk membantu organisasi memahami IFRS S1 dan IFRS S2 serta menghubungkan sustainability dengan strategi, risiko, keuangan, dan tata kelola. Pilih Public Training, In-House Training, atau Executive Learning.
Hubungi Karisman untuk membahas kesiapan perusahaan Anda—mulailah dari satu pertanyaan yang paling sulit. Jika 2027 datang besok, apa jawaban perusahaan Anda?







