Posted On
ByNana Roesmanto

Sepuluh Tahun Paris Agreement – Dunia Bergerak Maju, Tapi Masih Belum Cukup

ESG, Event, Training

Sepuluh Tahun Paris Agreement – Dunia Bergerak Maju, Tapi Masih Belum Cukup

Sebuah Janji yang Mengubah Dunia

Sepuluh tahun sudah berlalu sejak bersatunya para pemimpin dunia di Paris pada Desember 2015. Mereka  menandatangani sebuah perjanjian bersejarah: Paris Agreement. Perjanjian itu bukan sekadar dokumen diplomatik, tetapi harapan kolektif umat manusia untuk menahan laju pemanasan global agar tidak melebihi 1,5–2°C di atas suhu pra-industri.

Sejak saat itu, terjadi kemajuan besar. Dunia yang dulu melaju menuju bencana iklim dengan kenaikan temperatur global 4° Celsius kini sedikit melambat—proyeksi terbaru menunjukkan pemanasan pada tahun 2100 akan berada pada rentang 2,3–2,5°Celcius. Perubahan ini dipicu oleh beberapa hal, diantaranya adalah harga energi surya dan bayu jatuh bebas, kebijakan energi bersih bermunculan, dan sekitar 70 persen emisi global kini terikat pada janji menuju “net zero” pada pertengahan abad ini.

Namun di balik optimisme itu, ada kenyataan pahit: kita masih jauh dari jalur aman.

Tahun 2100 Kondisi
4° Celcius Sebelum Paris Agreement ditandatangani
2,6-2,8° Celcius Berlanjutnya kebijakan yang ada saat ini
2,3-2,5° Celcius Bila negara-negara memenuhi seluruh komitmen iklim mereka sesuai Paris Agreement
1,5° Celcius Tujuan dari Paris Agreement

Sumber: UN Emissions gap repot 2025

 

Tahun dengan Catatan Buruk Baru

Ironisnya, di tengah kemajuan kebijakan, emisi gas rumah kaca global justru memecahkan rekor baru. Tahun 2024, dunia mengemisikan 57,7 miliar ton CO₂ ekuivalen, meningkat 2,3 persen dari tahun sebelumnya—laju tercepat dalam dua dekade terakhir.

Peningkatan ini terutama datang dari:

  • Emisi bahan bakar fosil (batu bara, minyak, gas) naik 1,1 persen.
  • Sementara itu, deforestasi dan perubahan lahan melonjak 21 persen dan menyumbang lebih dari separuh peningkatan total emisi tahun itu.

Para ilmuwan memperingatkan, lonjakan emisi akibat kebakaran hutan dan penggundulan lahan ini mungkin dipicu juga oleh pola iklim ekstrem yang memperparah kekeringan di banyak wilayah tropis.

Sources: Crippa et al. (2025) for non-LULUCF emissions, Friedlingstein et al. (2025) for LULUCF emissions

 

Janji yang Terlambat Diperbarui

Sesuai kesepakatan, setiap negara harus memperbarui komitmen iklimnya melalui Nationally Determined Contributions atau NDC setiap lima tahun. Tetapi hingga September 2025, baru 64 negara yang melakukannya—itu pun hanya mencakup 63 persen emisi global.

Sebagian besar NDC baru masih bersifat “bisnis seperti biasa”. Banyak negara memang menambahkan target energi terbarukan, tapi hanya 29 persen yang memiliki target pengurangan batu bara, dan tidak ada yang menargetkan pengurangan produksi minyak dan gas secara langsung. Yang lebih mengecewakan, hanya 13 negara yang memperbarui target 2030 mereka—tahun yang dianggap krusial untuk menahan pemanasan di bawah 1,5°C.

Baru-baru ini, Indonesia telah menyerahkan NDC kedua (Second NDC) ke sekretariat UNFCCC pada 17 Oktober 2025. Kementerian Lingkungan Hidup menyatakan Second NDC ini adalah sebuah dokumen yang lebih ambisius dibanding dengan NDC pertama dan Enhanced NDC yang terbit terdahulu.

Kesenjangan yang Masih Menganga

Jika semua janji negara (NDC) dijalankan tanpa cela dan sesuai komitmen, suhu global masih akan naik sekitar 2,3°C. Tetapi dengan kebijakan yang saat ini benar-benar dijalankan, pemanasan bisa mencapai 2,8°C — jauh di atas batas Paris.

Untuk mencapai target 1,5°C, dunia harus memangkas emisi sebesar 55 persen dari level 2019 pada tahun 2035. Realitasnya? NDC saat ini baru menurunkan sekitar 15 persen. Setiap tahun keterlambatan berarti jalan menuju net zero akan semakin curam, mahal, dan menyakitkan.

 

Siapa yang Paling Bertanggung Jawab?

Negara-negara anggota G20 – negara dengan produk domestik bruto terbesar di dunia – masih menjadi aktor utama: mereka menyumbang 77 persen emisi global.

Dari enam penghasil terbesar, hanya Uni Eropa yang berhasil menurunkan emisi tahun 2024. India dan China mencatat kenaikan absolut tertinggi, sementara Indonesia—meski lebih kecil dalam total volume—menjadi negara dengan laju pertumbuhan emisi tercepat di antara G20.

Namun, tanggung jawab tidak bisa dilihat hanya dari angka tahunan. Sejarah emisi dan jumlah penduduk juga berperan. Rata-rata warga Amerika Serikat, misalnya, masih menghasilkan 10 kali lebih banyak emisi per kapita dibanding rata-rata warga India.

 

Jalan Menuju 1,5°C: Masih Mungkin, Tapi Semakin Curam

Laporan UNEP 2025 menegaskan: menahan pemanasan global di 1,5°C masih secara teknis mungkin. Tapi kini, jalurnya makin sempit.

Kita hampir pasti akan melampaui 1,5°C sementara dalam dua dekade mendatang sebelum mungkin menurunkannya kembali lewat penyerapan karbon alami dan teknologi carbon removal.

Namun setiap derajat tambahan memiliki dampak besar:

  • 0,1° Celcius saja dapat berarti ribuan korban tambahan akibat gelombang panas.
  • 0,2° Celcius dapat mempercepat kehancuran terumbu karang tropis.
  • Dan di atas 2° Celcius, sebagian lapisan es Antartika bisa hilang permanen.

 

Harapan dari Aksi Cepat

Ada kabar baik: laju transisi energi terbarukan kini melampaui ekspektasi. Kapasitas energi surya dan angin tumbuh lebih cepat daripada proyeksi, bahkan di negara berkembang. Kabar buruknya: belum cukup cepat untuk menutup jurang emisi.

Setiap tahun kita menunda tindakan berarti:

  • infrastruktur terkait karbon akan semakin tinggi,
  • biaya adaptasi meningkat, dan
  • ketergantungan pada teknologi penyerapan karbon – yang mahal biayanya – akan semakin besar.

Namun, perubahan arah masih mungkin. “Mitigasi yang cepat bukan hanya menghindari bencana; ia juga membuka jalan bagi pertumbuhan ekonomi, lapangan kerja, dan energi yang lebih bersih dan adil.”

 

Sepuluh Tahun Setelah Paris

Dunia memang telah berubah. Energi bersih menjadi arus utama. Kesadaran iklim menembus politik, ekonomi, hingga gaya hidup. Namun, perubahan besar sering dimulai dari tindakan kecil yang berani. Sepuluh tahun setelah Paris, pertanyaannya bukan lagi apakah kita bisa menahan pemanasan global, tetapi apakah kita mau bertindak cukup cepat untuk melakukannya.

“Hanya pengurangan emisi yang tegas dan segera,” tulis laporan UNEP, “yang bisa menyelamatkan dunia dari masa depan yang terlalu panas untuk ditinggali.”

Artikel ini disarikan dari UNEP Emissions Gap Report 2025: Off Target.

 

** Bila anda tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang tata kelola iklim (climate governance) termasuk analisis skenario, beserta pelaporannya, silakan mendaftar pada pelatihan keberlanjutan dan ESG yang diselenggarakan oleh Karisman Consulting. Pelatihan relevan yang terdekat adalah:  “Reporting with ISSB Standard: IFRS S1 and S2 pada 16-17 Desember 2025 di Jakarta” atau 8-9 Desember 2025 di Surabaya”.

Link registrasi pelatihan dapat melalui: bit.ly/IFRS_Training_KC

Related Articles

Ketika Laporan Keberlanjutan Hanya Memotret Kantor In...
Uncategorized
Kami melakukan telaah atas laporan keberlanjutan 2025 sepuluh emiten berkapitalisasi besar di Bursa Efek Indonesia yang menunjukkan: angka emisi yang dipublikas...
Seberapa Siap Perusahaan Menghadapi ISSB Standards IF...
ESGLingkunganSustainability
Sepuluh Pertanyaan Kunci yang Memerlukan Jawaban Sesegera Mungkin Apa manfaat keberlanjutan bagi bisnis? Pagi itu, rapat manajemen tentang ESG dan keberlanjutan...

Registration Sucess!

You’ve successfully signed up for the training session.
Details have been sent to your email.

Proposal Submitted Successfully

Your request has been received.
Our team will get back to you shortly.